Rabu, 22 Februari 2012

PC IMM Sleman Selenggarakan Diskusi Perdana Bidang Keilmuan

Alhamdulillah telah terselenggaranya diskusi bidang keilmuan dengan tema "Peran Intelektual muda di tengah kisruh bangsa" oleh kakanda Kasyadi, S.Sos. Acara tersebut dilaksanakan di Aula PC Muhammadiyah Depok Sleman dengan dihadiri oleh anggota dari pimpinan komisariat se-Cabang IMM Sleman dan para jajaran PC IMM Sleman sendiri.

Peran Intelektual muda di tengah kisruh bangsa[1]
Intelektual muda selalu identik dengan orang yang memiliki bakat, kecerdasan dan kejernihan berpikir berdasarkan ilmu pengetahuan. Seorang intelektual memiliki kecerdasan tinggi disertai totalitas dalam pengertian kesadaran terhadap bangsa, terutama yang menyangkut pemikiran dan pemahaman. Istilah intelektualitas secara definitive awalnya identik dengan gerakan pemberontakan dan gerakan pembangkangan terhadap kekuasaan. Istilah intelektual muncul dari tulisan Clamenceau di salah satu harian Paris L’Aurore pada 23 Januari 1898 untuk menggambarkan tokoh Dryfusards yang menentang angkatan darat yang sewenag-wenang. Kemudian di Barat istilah ini pada akhir abad ke-19 diakui sebagai orang yang memiliki kesadaran terhadap norma dan nilai dalam masyarakat.

Istilah lain dari intelektual yang lebih halus yaitu cendekiawan. Cendekiawan merupakan orang yang menggunakan kecerdasannya untuk bekerja, belajar, membayangkan, menggagas, atau meyoal dan menjawab pesoalan tentang berbagai gagasan. Secara umum istilah cendekiawan terbagi menjadi empat. Pertama, orang yang terlibat dalam ide-ide yang tertuang dalam bentuk tulisan. Kedua yaitu orang yang mempunyai keahlian dalam hal seni, budaya dan dengan kewibawaanya membangun masyarakat melaklui kebudayaan.
Dalam problem kebangsaan sekarang, persoalan agama, persoalan politik, persoalan ekonomi, persoalan sosial yang semakin pelik dibutuhkan peran pemuda. Dalam persoalan agama seringkali kita disuguhi oleh kekerasan atas nama agama, seperti kasus sunni syi’ah, kasuh ahmadiyah. Persoalan ekonomi banyak sekali kejahatan hanya untuk mendapatkan sesuap nasi. Persoalan politik tradaisi saling menjegal dalam berebut kekuasaan dan korupsi. Persoalan sosial, kesenjangan yang cukup tinggi antara orang kaya dan miskin. Jika dilihat dari berbagai persoalan bangsa tersebut seolah tidak ada yang dapat di banggakan dari bangsa ini. Namun sebenarnya masih terselip optimisme yang lahir dari kalangan pemuda. Disinalah peran pemuda dibutuhkan sebagai  actor perubahan bangsa mampu memberikan kontribusi dalam menyelamatkan bangsa ini.
Pemuda sebagai ujung tombak pembaharuan hendaknya memiliki empat karakter utama, yaitu Pemuda atau mahasiswa yang dikenal sebagai seorang yang akademis atau intelektual memiliki peran dalam menganalisis dan menjawab persoalan bangsa. Pemuda juga dikenal dengan agen perubahan sosial hendaknya memiliki karakter khas sebagai agen perubahan. Adapun ciri pemuda yang ideal atau teladan terbagi menjadi empat, yaitu; Pertama seorang pemuda yang memiliki keberanian. Keberanian dalam memperjuangkan diri dan bangsa. Kedua, pemuda identik dengan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Rasa ingin tahu seorang anak muda terhadap hal-hal baru mendorong pemuda untuk selalu mencoba hal-hal baru. Dengan keingintahuan inilah muncul gagasan-gagasan baru. Ketiga, pemuda aktivis, yaitu pemuda yang memiliki kecerdasan dan keterlibatan dalam hal organisatoris. Keempat, pemuda harus menjaga akhlak dan pribadi.
Sudah cukup banyak pemuda yang memiliki ciri dan karakter seperti tersebut dalam poin satu sampai tiga diatas, terbukti masih banyak aktor-aktor pergerakan dilahirkan dalam kondisi memiliki keberanian, memiliki pengetahuan yang tinggi, aktivis organisasi, justru terjebak dalam sistem yang menjerumuskan seperti korupsi. Hal ini dikarenakan pemuda tersbut belum memiliki kesadaan dalam menjaga moral dan pribadi dari kepentingan sesaat. Selain itu problem lain yang seringkali terjadi seorang akademisi atau intelektual muda hanya pandai dalam ranah teoritis namun sama sekali tidak menyentuh ranah praktis. Intelektual muda kadang jarang hadir di tengah-tengah kebutuhan masyarakat akan pencerahan.
Seorang intelektual muda diharapkan memberikan kontribusi konkret dalam menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa. kontribusi intelektual muda dapat dilakukan sesuai kemampuan dan bidangnya masing-masing. Seorang pemikir hendaknya memberikan kontribusi ide-ide atau gagasan. Seorang intelektual praktis meberikan kontribusi secara teknis.


[1] Disarikan dari hasil diskusi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang Sleman dengan pemateri Immawan Kasyadi, S.Sos.



♦ ♦ ♦

1 komentar:

Jangan lupa Beri komentar sebagai Name/URL..terima kasih